
Halo teman-teman,
Salah satu dilema yang sering dialami advertiser Meta adalah ini:
“Kapan sebaiknya saya matikan campaign lama dan mulai yang baru?”
Terlalu cepat dimatikan — sayang datanya.
Terlalu lama dibiarkan — budget malah bocor terus.
Nah, supaya kamu nggak salah langkah, di artikel ini kita akan bahas cara mengenali tanda-tanda campaign sudah waktunya pensiun, dan kapan saat yang tepat untuk mulai campaign baru.
1. Lihat Data, Bukan Perasaan
Banyak advertiser terjebak di mindset “kayaknya udah nggak bagus deh iklannya”.
Padahal, feeling bukan alat ukur performa
Gunakan data objektif dari Ads Manager untuk menilai:
-
ROAS (Return on Ad Spend) turun >30% selama 5–7 hari berturut-turut
-
CTR (Click Through Rate) menurun drastis
-
Frequency terlalu tinggi (>5 untuk cold audience)
-
CPC (Cost per Click) naik tanpa peningkatan hasil
Kalau 2–3 indikator di atas terjadi bersamaan, itu tanda kuat campaign mulai “tua”.
2. Cek Fase Audience Fatigue
Iklan yang sama terus-menerus ditampilkan ke audiens lama bisa menyebabkan ad fatigue — audiens mulai bosan.
Ciri-cirinya:
-
Komentar negatif meningkat
-
Engagement turun
-
CPM naik walau budget sama
Kalau tanda-tanda ini muncul, artinya kamu harus refresh kreatif (ganti visual, headline, atau angle).
Kalau sudah di-refresh tapi hasil tetap jeblok, saatnya ganti campaign baru.
3. Jangan Matikan Campaign yang Masih Belajar
Kesalahan umum pemula: mematikan campaign yang baru jalan 2–3 hari karena “hasil belum kelihatan”.
Padahal di fase itu, algoritma Meta masih learning dan sedang mencari audiens terbaik.
➡️ Tunggu minimal 5–7 hari sebelum menilai campaign baru.
Kalau setelah itu data tetap stagnan, barulah kamu bisa pertimbangkan untuk mematikan dan ganti struktur.
4. Pertimbangkan Pola Musiman
Beberapa campaign bisa turun performanya bukan karena iklannya jelek, tapi karena pola musiman.
Contoh:
-
Produk fashion turun di awal bulan karena fokus orang ke kebutuhan pokok.
-
Produk edukasi meningkat menjelang tahun ajaran baru.
Kalau pola musiman jadi penyebab, jangan langsung matikan campaign, cukup pause sementara dan hidupkan lagi di waktu yang tepat.
5. Gunakan Strategi “Transition Campaign”
Alih-alih langsung matikan campaign lama, kamu bisa bikin transition campaign selama 3–5 hari.
Caranya:
-
Buat campaign baru dengan setup yang lebih optimal.
-
Jalankan bersamaan dengan campaign lama.
-
Setelah campaign baru mulai stabil, matikan yang lama secara bertahap.
Strategi ini bikin transisi lebih halus dan data nggak putus mendadak, jadi algoritma tetap stabil.
6. Catat Data Sebelum Matikan Campaign
Sebelum menekan tombol “Off”, pastikan kamu simpan semua data penting:
-
CTR
-
CPM
-
ROAS
-
Biaya per hasil
Data ini penting banget buat bahan analisis ke depan.
Jangan sampai kamu kehilangan insight berharga cuma karena buru-buru mematikan iklan.
🎓 Webinar Digital Marketing Tingkat Lanjut
Kalau kamu pengen belajar lebih dalam tentang strategi menjaga performa campaign dan kapan harus scaling atau restart,
jangan lewatkan webinar eksklusif dari Yoshugi Media!




📅 Tanggal: Rabu, 29 November 2025
🕘 Waktu: 09.00 – 16.00 WIB
🎯 Topik: Mindset Pebisnis Online, Strategi Meta Ads, Funnel, dan Scaling
🎁 Bonus Eksklusif:
-
E-Course senilai Rp6.000.000
-
Video Recording
-
E-Certificate
-
Voucher Shopee Rp50.000
💸 Biaya pendaftaran: Rp100.000
👉 Daftar di sini: https://yoshugimedia.com/webinar-bisnis-online/
Kesimpulan:
Mematikan campaign bukan berarti gagal. Justru itu tanda kamu peduli pada efisiensi dan hasil.
Gunakan data sebagai kompas, bukan emosi, dan lakukan transisi dengan strategi yang rapi.
➡️ Artikel Sebelumnya: Kapan Waktu Terbaik Meluncurkan Iklan Baru di Meta Ads
➡️ Kembali ke Home: https://yoshugimedia.com/
Nantikan artikel berikutnya: “Strategi Lookalike Audience 2025: Cara Menemukan Pelanggan Baru dari Data Lama.”
Kita akan bahas cara memanfaatkan data lama untuk menggandakan potensi pasar baru!


